Kamis (23/6) untuk pertama kali Klinik TB-MDR (Multidrug-resistant tuberculosis) di RSUD Dr. Muhammad Zein Painan beroperasi dengan melayani pasien kasus TB-MDR.
Tuberkulosis (TBC) adalah penyakit menular akibat infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis. Pasien harus disiplin menjalani pengobatan untuk mencegah munculnya TB MDR. Sedangkan TB MDR (multiple drug resistant) adalah kondisi ketika pasien TB mengalami resistensi atau kebal obat antibiotik. Ini mungkin terjadi akibat pasien tidak mematuhi aturan minum obat TBC dengan benar.
Kondisi resistensi antibiotik menandakan bakteri tidak lagi terpengaruh dengan reaksi antibiotik. Akibatnya, obat-obatan tidak lagi mempan untuk menyembuhkan infeksi bakteri.
TB MDR ditandai dengan memburuknya gejala tuberkulosis, seperti batuk terus-menerus, batuk berdarah, sesak napas, demam ringan, dan berkeringat pada malam hari.
Ketika seseorang resisten terhadap obat antituberkulosis, pengobatan jadi lebih kompleks dan butuh waktu yang lebih lama untuk sembuh. Pengobatan untuk TB resisten obat juga punya risiko efek samping yang lebih berat.
Pasien yang terkena TB MDR biasanya kebal pada obat TBC lini pertama, seperti isoniazid (INH) dan rifampisin. Kedua antibiotik ini bekerja paling efektif menghentikan infeksi bakteri penyebab tuberkulosis.
Namun, tidak menutup kemungkinan bila pasien juga bisa resisten terhadap obat-obatan lini pertama lainnya, seperti etambutol, streptomisin, dan pirazinamid.
Seberapa umum kondisi ini?
TB MDR merupakan masalah kesehatan yang masih jadi ancaman serius. Di negara-negara berkembang, terutama daerah di mana TBC tergolong umum, kasusnya cukup tinggi.
Sebuah studi dalam jurnal Tropical Diseases Travel Medicine and Vaccines (2016) menemukan ada sebanyak 4,1% kasus kebal obat tuberkulosis yang muncul pertama kali.
Di samping itu, ada 19% kasus tuberkulosis MDR yang berkembang dari TBC biasa. Ada pula 240.000 kasus kematian akibat resistansi obat TB pada tahun yang sama.
Badan Kesehatan Dunia (WHO) juga melaporkan kasus resistensi obat TBC telah terjadi di 117 negara, dengan kasus tertinggi terjadi di Tiongkok, India, dan Rusia.
Tingginya jumlah pengidap TB resisten obat dipicu berbagai macam faktor, termasuk metode pengobatan yang kurang memadai dan pasien yang lalai menjalani pengobatan.
Penulis: andi