PAINAN — Tangisan bayi berusia sembilan bulan itu pecah pelan di ruang perawatan. Namanya Keiyan. Sejak lahir, bayi asal Tapan, Kabupaten Pesisir Selatan itu membawa kondisi yang tidak mudah: bibir sumbing.
Bagi keluarganya, kondisi itu bukan sekadar soal penampilan. Bibir sumbing membuat proses menyusu menjadi lebih sulit. Orang tua Keiyan harus lebih sabar dan telaten setiap kali memberi makan. Kekhawatiran juga terus muncul—bagaimana nanti saat Keiyan mulai tumbuh dan belajar berbicara.
Harapan baru datang ketika keluarga mengetahui bahwa operasi bibir sumbing kini bisa dilakukan di RSUD Dr. Muhammad Zein Painan. Selama ini, banyak pasien dengan kondisi serupa harus dirujuk ke rumah sakit besar di kota lain, yang tentu membutuhkan biaya dan perjalanan tidak sedikit.
Pada Awal tahun 2026, tepatnya tanggal 13 bulan januari, Keiyan menjalani operasi yang menjadi tonggak sejarah baru bagi rumah sakit: operasi bibir sumbing pertama yang dilakukan oleh Tim Dokter RSUD Dr. Muhammad Zein Painan.
Tindakan operasi ini digawangi oleh drg. Fauzan Akmal, BMMF, dokter spesialis bedah mulut dan maksilofasial bersama Tim di Ruangan Operasi. Dengan ketelitian tinggi, Tim memperbaiki jaringan bibir Keiyan agar kembali menyatu dan membentuk struktur yang lebih normal.
Bagi dunia medis, operasi bibir sumbing merupakan prosedur rekonstruktif yang membutuhkan presisi. Otot, kulit, dan jaringan bibir harus disusun kembali agar tidak hanya memperbaiki bentuk, tetapi juga mendukung fungsi makan dan perkembangan bicara anak di masa depan.
Pada kasus Keiyan untuk operasi celah langit-langitnya akan dilakanakan pada pasien usia 18-24 bulan.
Operasi Keiyan sekaligus menandai perkembangan layanan kesehatan di RSUD Painan. Klinik Spesialis Bedah Mulut dan Maksilofasial sendiri baru hadir di rumah sakit tersebut pada Mei 2024. Kehadiran layanan ini membuka peluang penanganan berbagai kasus bedah mulut yang sebelumnya belum dapat dilakukan di daerah.
Kini, setelah operasi, perubahan pada bibir Keiyan mulai terlihat. Luka operasi masih dalam tahap pemulihan, tetapi bentuk bibirnya sudah tampak lebih menyatu. Bagi orang tuanya, itu bukan sekadar hasil tindakan medis—melainkan harapan baru bagi masa depan anak mereka.
Keberhasilan operasi ini juga membawa harapan bagi banyak keluarga lain di Pesisir Selatan yang memiliki anak dengan kondisi serupa. Dengan adanya layanan spesialis di daerah, akses terhadap penanganan medis yang tepat kini menjadi lebih dekat.
Kriteria operasi bibir sumbing dapat dilaksanakan:
Bagi Keiyan, perjalanan hidupnya masih panjang. Namun dari ruang operasi kecil di Painan, sebuah langkah besar telah dimulai—menuju senyum yang lebih utuh di masa depan.
Penulis: Andi Kasianto